Gonna be mine or NO!
Menjadi pengagum rahasia itu gak
semudah yang dibayangkan oleh Sheva, Sheva yang begitu mengaggumi Inggar, kakak
kelas disekolahnya. Entah apa yang membuat Sheva begitu mengagumi Inggar.
Cerita ini berawal ketika Sheva hendak ke kantin, jalan menuju kantin melewati
ruang kelas Inggar, ketika Sheva melangkah dan tiba-tiba saja bahunya terdorong
oleh seorang cowok yang lebih tinggi darinya, otomatis Sheva hampir terjatuh
“Aduhhh”, “Ehh, sorry yaaa, sorry gue buru-buru” Begitu saja berlalu, Inggar
langsung meninggalkan Sheva yang masih terdiam. “Lo gak apa-apa Shev ?” Tanya
Tasya, teman Sheva yang saat itu ada ditempat. “Hmm, iyaa gak apa-apa gue” “Emang
dasar tuh Inggar, seradak-seruduk aja” Jawab Tasya. “Ohh, jadi namanya Inggar”
Batin Sheva.
Beberapa
hari terlewati, “Sya, lo kenal Inggar dari mana ?” Tanya Sheva tiba-tiba saat
jam istirahat berlangsung. “Gue kenal dari temen gue, kenapa lo nanyain dia ?”.
“Ohh, mmm, gak apa-apa kok Cuma nanya aja” Ucap Sheva dengan senyum. Akhirnya
mereka memutuskan untuk kekantin. Dan seperti biasanya Sheva melewati kelas
Inggar, dari kejauhan sudah terlihat, kerumunan anak-anak XII IPA 6 yang
berkumpul depan kelas mereka, mata Sheva pun tertuju pada sosok cowok, yaa
cowok yang pernah menabrak bahunya. “Inggar…..” Entah kenapa ketika melihat
Inggar untuk kali ini perasaan Sheva menjadi tak karuan. Tanpa disadari Tasya
memperhatikan Sheva daritadi , yang melihat Inggar dengan senyum yang tak
biasa.
Jam
istirahat masih berlangsung, Sheva memesan makanan, “Shev, lo suka sama Inggar
ya ?” Tanya Tasya tiba-tiba. “Hah?” Sontak Sheva kaget dengan pertanyaan Tasya.
“Ahh, apaan sih lo” Sheva berusaha untuk bersikap tenang, “Yaa habis tadi pas
lewat depan kelas Inggar, lo senyum-senyum aja sih” Jelas Tasya. “Masa sih ?
biasa aja deh kayaknya” Ucap Sheva, untuk saat ini dia belum ingin cerita
apa-apa tentang perasaannya.
Ketika
Sheva pulang kerumah, ia mulai menelusuri akan perasaannya untuk Inggar, “Apa
iya gue suka sama Inggar ?” Tanya Sheva dalam hati, dan saat itu juga Sheva
mulai penasaran dengan Inggar. Sheva berusaha mencari tau informasi tentang
Inggar, termasuk status cowok itu, dan ternyata single. “Hmmm, great! Dia
single, berarti gue bebas ngagumin dia” Ucap Sheva didepan layar laptopnya,
tentu saja cewek ini habis mencari akun dari Inggar.
Setelah
kejadian dan hari-hari yang telah berlalu, Sheva menjadi sering bertemu Kakak
kelasnya itu, entah Inggar melewati koridor bawah ruang kelas Sheva, entah
dikantin, entah juga bertemu diparkiran. Terkadang Sheva sering sekali melongo
dari atas balkon kelasnya kearah lapangan Basket dimana kelas Inggar berada
tepat didepan lapangan itu, dan cukup jelas terlihat dari arah kelas Sheva yang
berada diserong kiri.
Sebulan
berlalu, saat itu kelas 11 dan 12 akan mengadakan study tour ke daerah Bandung.
Murid-murid mulai membicarakan bagaimana serunya perjalanan mereka nanti,
apalagi bagi yang punya pacar, bisa meniknmati indahnya pemandangan kota
Bandung dan sejuknya udara disana bersama pasangan mereka. “Ehh, Shev, lo ikut
kan study tour ke Bandung ?” Tanya Tasya. “Mmm, iya gue ikut ko, pasti seru
banget acaranya” ucap Sheva. “Semoga aja Inggar ikut” Batin Sheva.
Hari
nya pun tiba, dimana semua murid menyiapkan barang-barang mereka untuk
dimasukkan kedalam bis yang telah disiapkan. “Shev, lo dimana sih ? Udah mau
jalan nih buruaaannn” Ucap Tasya dari sebrang telefon. “Iyaa, sebentar yaa,
angkutan umumnya lama nih datengnya” “Oke, deh hati-hati lo” Jawab Tasya. Waktu
menunjukkan pukul 06.45, “Aduhh, mampus deh gue, 15menit lagi” Sheva mulai
panik, dan akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kaki siapa tahu ada angkutan
umum didepan sana. Tiba-tiba saja ada bunyi motor yang tepat dibelakang Sheva,
lalu berhenti disamping Sheva, “Ehh, lo kan yang waktu itu gue tabrak dikantin
kan ?”. Sheva menoleh kearah orang itu dan “Astagaaa, Inggar” Ucap Sheva dalam
hati, betapa kagetnya cewek ini menyadari Inggar berada tepat disampingnya. “Lo
kenapa jalan ?” Sheva masih terdiam. “Woy! Lo harus ikut study tour kan,
sekarang udah mau telat, mending lo bareng gue aja” Tawaran Inggar membuat
Sheva semakin terkejut, “Bareng lo ?” Akhirnya Sheva buka suara yang terdengar
agak kikuk. “Iyaa, anggep aja permintaan maaf gue waktu dikantin itu, yuk
buruan”. Akhirnya Sheva menerima tawaran Inggar, dan mereka berangkat bareng
menuju sekolah.
Tiba di
sekolah akhirnya Sheva turun dari motor Inggar, “Makasih ya Kak” Ucap Sheva
dengan seulas senyum. “Iya, sama-sama, nama lo siapa ?” Tanya Inggar. “Nama gue
Sheva Kak” “Ohh, gue Inggar” Sambil mengulurkan tangannya dan menunggu Sheva
menjabat tangan Inggar. “Hmm iya gue tau kok Kak”. Inggar mengernyitkan
keningnya “Tau ?”. “Ehh, iyaa maksud gue, gue sekarang udah tau nama lo” Ucap
Sheva dengan gugup. Akhirnya mereka berdua berpencar mencari bis mereka masing-masing.
“Shev, untung lo gak telat” ucap Tasya. “Iyaa, tepat waktu kan gue”. “Lo sama
siapa emang ? naik angkot ?” Tanya Tasya. Sheva terdiam sejenak entah dia harus
jujur atau berbohong tapi akhirnya “Gue bareng sama Inggar” Ucap Sheva dengan
malu-malu. “Hah ? Inggar ? Kak Inggar maksud lo ? Kok bisa ?” Sontak Tasya
kaget tanpa mengontrol volume suaranya, yang membuat seisi bis menoleh kearah
mereka berdua. “Ihh berisik lo Sya!” Ucap Sheva, Tasya pun tersadar bahwa
sekelilingnya melihat ke arahnya “Ehh, iya sorry sorry..hehe” “Jadi gimana bisa
lo bareng Inggar ?” Lanjut Tasya dengan nada yang sedikit berbisik. “Yaa,
begitu deh, dia nyamperin gue waktu gue mau jalan ke depan nyari angkot. Sya,
kalo gue suka sama Innngg….gar gimana ?” Ucap Sheva dengan ragu-ragu. “Suka
????” “Iya, sebenernya gue udah suka sama dia sejak kejadian dikantin yang
waktu dia nabrak gue itu” Ungkap Sheva. “Lo yakin ? Ya gak apa-apa sih, emang dia
gak punya pacar ?” Tanya Tasya. Sheva pun menggelengkan kepalanya dan
tersenyum.
Akhirnya
rombongan pelajar SMA itu tiba ditempat, mereka semua bergegas memindahkan barang-barang
mereka ke kamar yang telah ditentukan. Saat sedang membawa barangnya, Sheva
melihat sosok itu, Inggar yang sedang menurunkan tasnya, dan tiba-tiba cowok
itu menoleh ke arah Sheva, spontan Sheva kaget dan mau tak mau ia harus senyum
walaupun agak kaku, dan Inggar pun tersenyum kembali kearah Sheva, akhirnya
Sheva pun berlalu menuju kamarnya.
Keesokan
paginya para siswa berkumpul disuatu tempat untuk melakukan tour pertama
mereka, yaitu ke kebun teh. “Shev, liat tuh siapa disana” Tasya menyenggol
tangan Sheva dan menyuruh Sheva melihat kearah sebelah kanannya. “Husshh! Apaan
sih lo Sya,jangan gitu ah ntar ketahuan kalo gue naksir” ucap Sheva dengan
berbisik. “Hehehe, iya sorry” jawab Tasya dengan senyum lebar. “Gue nitip
handphone gue Sya, gak ada kantong nih gue” Pinta Sheva sambil memberikan
handphonenya ke Tasya.
Perjalanan
mereka pun dimulai, Nampak Sheva mulai bosan dengan tour itu, karena Tasya juga
asyik sendiri dengan teman-teman yang lain untuk berfoto-foto, dan ada juga
yang ikut mengambil pucuk teh. “Sini Shev, ikutan foto” Ajak Tasya. “Tau lo
diem-diem aja daritadi” Balas Tara. “Males ah”. Akhirnya Sheva memutuskan untuk
berjalan-jalan sendiri. “Pada asyik sendiri” Keluh Sheva, akhirnya ia duduk
disuatu batu besar , menikmati udara yang sejuk. “Ehmmmm”. Mendengar deheman
seseorang membuat Sheva kaget dan terperanjat. Segera ia membuka matanya. “Kak
Inggar ?”. “Iyaa, kenapa ?”. Sheva hanya menggelengkan kepalanya, entah ia
harus berkata apa. “Lo ngapain disini ? gak ikutan yang lain ?” Tanya Inggar.
“Hmmm, males, gue bosen”. “Ohh sama dong, boleh gue duduk disitu ?” Tanya
Inggar, dan dengan cepat Sheva bergeser ke kiri. “Sejuk yaa ternyata” Ucap
Inggar sambil memejamkan matanya. “Iya Kak” jawab Sheva dengan singkat, sebenarnya
gadis ini ingin berkata banyak, tapi rasa deg-degannya yang membuat semuanya
tertahan. “Btw, lo mau gue ajak ke suatu tempat gak ? gue jamin lo suka!” Ucap
Inggar dengan antusias. “Kemana emang ?”. “Udah yok, ikut gue aja” Inggar pun
bangkit dari duduknya dan menarik tangan Sheva. “Ohh, Tuhan” seketika jantung
Sheva berdegub lebih cepat saat Inggar meraih tangannya.
Tiba
ditempatnya, Sheva dan Inggar berdiri dipinggiran danau yang mungkin jarang
orang ketahui, tempatnya indah, tenang, dan sejuk. Pohon-pohon disekelilingnya
juga mendukung tempat tersebut menjadi lebih sejuk, pas untuk menenangkan pikiran.
“Gimana lo suka kan ?” Ucap Inggar dengan senyum dan sambil memperhatikan
ekspresi wajah Sheva. “Suka banget Kak, gue baru pertama kalinya kesini” Jawab
Sheva dengan wajah yang sumringgah. “Dan pertama kalinya gue kesini sama orang
yang gue kagumin” Batin Sheva. “Hahaha, hebat kan gue bisa nemuin tempat kayak
gini, lo laper gak ?”. “Hah? Laper ? kalo laper juga mau makan apaan Kak ?”
Tanya Sheva dengan polos. “Noh rumput banyak hahaha” Celetuk Inggar. “Ihh gue
kira lo bawa makanan”. “Jadi lo laper nih ? oke-oke, nih buat lo” Inggar
memberikan Sheva sebatang coklat, sejenak Sheva terdiam dan akhirnya berkata
“Coklat ? Cuma satu ?” Tanya Sheva. “Ya iya coklat masa jahe! Emang lo mau
berapa ? satu aja belum tentu abis” Jawab Inggar. “Bukaaannn! Maksud gue, masa
gue makan lo engga” Jelas Sheva. “Yailah, santai aja kali Shev, lo kan cewek,
trus disini dingin, lo laper, yaudah ini buat lo, gue sih gampang” tiba-tiba
terdengar suara demo dari perut Inggar. “Haha, muna lo Kak, perut lo juga
kelaperan tuh”. Inggar menggaruk-garukkan kepalanya, mukanya pun mulai memerah
dan ia menyeringgai. “Yaudah, kita makan bareng aja ya” ajak Sheva.
Tak
terasa sejam berlalu mereka habiskan dengan canda dan tawa yang ditemani
sebatang coklat, menghadap danau yang tenang dan udara yang sejuk. Udara sejuk
itu pun berubah menjadi mendung. “Yah, kayaknya mau hujan nih”. Ucap Sheva
sambil memperhatikan awan yang mulai mendung. “Wahh, iya nih, yaudah kita balik
yuk, takut nanti juga dicariin sama yang lain” Akhirnya mereka berdua bergegas
meninggalkan tempat. Baru beberapa langkah dan hujan pun turun, “Yuuukkk
buruaaann, nanti lo sakit!” Inggar meraih tangan Sheva, yaa untuk yang kedua
kalinya, dan kedua kalinya jantung Sheva bernari-nari ditengah hujan. “Kak,tuh
disana ada saung” Ucap Sheva. Mereka pun menghampiri saung itu dan berteduh
untuk beberapa saat, “Lo dingin gak ?” Tanya Inggar. “Enggak Kak, gue kepanasan
nih, liat tuh keringet gue sampe kayak begini” Ucap Sheva dengan menggigil.
“Hahaha, lucu juga lo yaa, itu kan karena hujan”. “Udah tau nanya” Jawab Sheva
dengan ketus. “Sini tangan lo” Inggar menarik tangan Sheva dan memasukkannya
kedalam kantong mantelnya. “Gimana ? udah mendingan kan ?” Tanya Inggar. Namun
Sheva hanya menagngguk, entah harus berkata apa, ditengah hujan seperti ini,
kejadian romantis ini sweet moment!. “Makasih Kak” Sheva menarik tangannya dan
tersenyum menghadap Inggar. Inggar hanya balas dengan senyum. “Astaga! Gue
lupa!”. “Lupa apa ?” Tanya Inggar. “Hmm, gue boleh minjem handphone lo gak kak
? Handphone gue ada ditemen gue, tadi gue nitip”. “Ohh, yaudah nih pake aja”.
Sheva menekan tombol untuk menghubungi nomornya, saat sudah terhubungi ia
menanyakan keberadaan teman-temannya. “Udah reda kak, balik sekarang yuk ?”
Ajak Sheva. “Ohh, iyaa, yuk, lo gak apa-apa kan ? pusing atau apa gitu ?” Tanya
Inggar. “Hmm, gak kak, gue sehat” Ucap Sheva dengan senyum. “Ya Tuhan
perhatiannya” Batin Sheva. Mereka berjalan menuju penginapan mereka
masing-masing. “Oke, lo istirahat ya, maaf kalo tadi lo jadi kehujanan gara-gara
gue” Ucap Inggar. “Hehe, iya kak tenang aja gue gak apa-apa kok, makasih kak”
Jawab Sheva dengan senyum penuh arti.
Sheva
masuk menuju kamar inapnya, didalam sudah ada teman-temannya. “Dari mana lo ?”
tanya Tasya. “Hmmmm, abis jalan-jalan sama Inggar” Ucap Sheva dengan senyum
yang begitu ceria. “Apa ? Inggar ?” Tara begitu kaget mendengar nama itu.
“Hmmm, iyaaa, abis gue bete, yaudah gue jalan-jalan sendirian ehh ketemu Inggar,
yaudah dia ngajak gue jalan-jalan, aaaa pokoknya romantisss tisss tiiss” Dengan
ekspresi wajah yang berseri-seri Sheva menceritakan dan membayangkan yang telah
ia lalui dengan Inggar. “Gilaaaaaa, udah kaya di ftv-ftv aje lo yeee hahaha”
Jawab Tasya. “Jadi lo suka sama Inggar Shev ?” tanya Tara dengan wajah polos.
“Ohh, iyaaa sorry Ra, gue belum cerita yaa masalah itu” ucap Sheva dengan
semyum lebar. “Gue rasa lo bakalan jadi nih sama Inggar” Ungkap Tasya.
Keesokan
harinya lanjut ke acara tour mereka yang kedua seperti biasa para siswa
berkumpul disuatu tempat untuk diberi pengarahan, tempat selanjutnya adalah
kebun stroberi. “Gue mau petik stroberi yang banyak ahhh” Ucap Tara. “Mau
banyak ? bayar woy, lo kira gratis” balas Tasya. “Hahaha, gak masalah, gue
bayar, slow aja”. “Lo gimana Shev ?” tanya Tasya. “Hah? Gimana apa ?” jawab Sheva
seperti orang linglung. “Yahhh, salah udah, lagi meratiin doi, gue sama Tara
dicuekkin”. “Yahh, sorry deh hehe”. Akhirnya mereka berangkat menuju kebun
stroberi. Sampai ditempat Tara dan Tasya langsung tancap gas menuju kebun itu
meninggalkan Sheva yang baru saja turun dari bis. “Kebiasaan, gue ditinggal”
keluh Sheva. Akhirnya Sheva terpaksa mengelilingi kebun stroberi sendirian,
memotret sendirian. “Sendirian lagi ?” tiba-tiba suara itu mengagetkan Sheva
yang sedang asyik memotret suasana kebun stroberi. “Hah? Ehh, iya kak, lo juga
?” Balas Sheva, yang sekilas melihat keberadaan Inggar dan akhirnya melanjutkan
memotret. “Ohh, lo suka motret ya ?” tanya Inggar. “Hmm, lumayan, iseng-iseng
aja”. “Hmmm, gue boleh nemenin lo ?” belum sempat Sheva menjawab Inggar
melanjutkan kata-katanya lagi “Ehh maksud gue motret-motret bareng lo ?”. Sheva
menganggukan kepalanya “Boleh dong”.
Mereka
mengambil sudut yang menarik untuk dipotret, Sheva menikmati saat-saat seperti
ini, entah bagaimana dengan Inggar, apakah ia merasakannya ?. “Daritadi kita
motret kebun terus, kenapa gak kita berdua aja yang jadi objeknya ?” Tanya
Inggar. Mendengar pernyataan itu sontak membuat Sheva kaget, “Gue foto sama
Inggar, iyaa sama Inggar” batin Sheva, jantungnya serasa jumpalitan, menari-nari,
dan koprol. “Hahaha” terdengar tawa sumbang dari Sheva, menahan grogi, “Yaudah
ka, lo aja yang megang kameranya” Sambil memberikan kamera pada Inggar, Sheva
berusaha mengatur nafasnya. “Oke, 1 2 3” jadilah foto kebersamaan mereka
dikebun stroberi, dengan senyum lebar pada kedua anak remaja ini. “Bagusss,
nanti gue minta ya fotonya” Ucap Inggar. “Iya, atur aja kak”. “Kayaknya kurang
kerasa sekali foto doang hahaha” celetuk Inggar. Akhirnya mereka hanyut dalam
kebersamaan itu. “Gigi gue kering nih ka hahaha” Ucap Sheva. “Yahh, sama gue
juga nyengir mulu sih haha” balas Inggar. “Tunggu disini ya Shev, gue mau ambil
sesuatu dulu” Inggar pun beranjak dari tempat dan meninggalkan Sheva. Beberapa
menit kemudian cowok itu datang lagi dengan 2 gelas jus stroberi ditangannya.
“Nahh, ini biar gigi gak kering, minum dulu kita” Sambil memberikan segelas jus
itu kepada Sheva. “Wahh, asiiikk, makasih kak” Ucap Sheva dengan senyum.
Rasanya Sheva tak ingin hari itu cepat berlalu, hari dimana ia bisa disisi
Inggar, menikmati suasana bersama Inggar. Namun kenyataannya semua itu pun akan
segera berakhir karena besok mereka akan kembali melewati aktivitas seperti
biasanya, sekolah. “Lo asik juga ya ternyata” tiba-tiba Inggar membuka
percakapan saat mereka berdua sedang asik menikmati jus mereka. “Hah ? ahh bisa
aja lo ka, gue asik ya karena lo juga asik orangnya, padahal kita belum lama
kenal” balas Sheva. Inggar hanya menganggukan kepalanya sambil menyedot jus nya
dan tersenyum.
Para
siswa dan siswi akhirnya kembali ke penginapan mereka masing-masing. Sama
seperti Inggar dan Sheva, akhirnya mereka menutup hari mereka di kebun stroberi
itu. “Thanks for everythings Shev” Ucap Inggar saat mereka berdua hendak
berpisah karena penginapan laki-laki dan perempuan memang benar-benar terpisah.
“Don’t mention it Kak” Balas Sheva dengan melemparkan senyum termanisnya untuk
Inggar. Sheva membuka pintu kamarnya, dan ternyata kedua sahabatnya sudah stay
disana duluan dengan memasang tampang yang agak sedikit aneh, senyum-senyum
namun mata mereka menyelidik gerak-gerik Sheva. “Cieeeeeeee” teriak mereka
berdua. Muka Sheva pun mulai berubah menjadi merah dan terasa panas, namun
kedua sahabtanya itu tetap tertawa cekikikan. “Ihh, kenapa lo berdua ?” Ucap
Sheva yang berusaha menutupi malunya. “Aduuhh, udah Shev, cerita aja lagi kita
udah liat kok tadi lo sama Inggar tuh udah kayak sepasang kekasih hahaha” ledek
Tasya. “Tau lo, sok-sok segala gak ada apa-apa lagi ckckck” Lanjut Tara.
“Hahaha, rese ahh lo berdua, kepoin gue nih yeee haha” balas Sheva yang
akhirnya tertawa lepas. “ Yaudah, kapan nih kita dapet traktiran jadiannya ?”
Ucap Tara sambil melirik ke arah Sheva. “What the….jadian ? lawak lo ahh, udah
ahh capek gue mau bobo dulu yaa, good night my girls” akhirnya Sheva merebahkan
tubuhnya ke kasur dan memejamkan mata. “Ahh, gak asiikk lo masa tidur” gerutu
Tasya.
Keesokan
harinya, pagi itu udara di Badung memang gak pernah berubah, selalu dan akan
selalu dingin. Sheva terbangun dari tidurnya berusaha membuka matanya karena ia
harus bersiap-siap untuk pulang. Dilihat kedua sahabatnya masih terlelap dalam
tidur, “Yahh, pada keboooo, bangun wooooyyyyy” teriak Sheva, namun tak ada
pergerakkan dari kedua sahabatnya, akhirnya Sheva memutuskan untuk mandi, perlu
berfikir berkali-kali untuk mandi disaat udara seperti ini. Saat hendak
melangkah ke kamar mandi tiba-tiba dering sms handphone Sheva berbunyi, segera
ia mengecek handphonenya “Selamat Pagi,
gue tunggu ditaman samping ya Shev, kita sarapan bareng”. Membaca kalimat
itu membuat Sheva kaget dan penasaran, karena nomor itu tidak terdaftar di
handphone Sheva. Akhirnya ia memutuskan untuk membalas sms itu terlebih dahulu
“Pagi juga, btw, ini siapa ya?”. Beberapa
saat kemudian dering itu bunyi lagi. “Yah,
lupa ? waktu lo kehujanan lo minjem handphone siapa woy ?”. Saat membaca
sms yang itu wajah Sheva berkali-kali lipat menjadi cerah ceria, “Ohh, Kak Inggar, siap Kapten tunggu yaaa”. Sheva
pun melesat kekamar mandi tak peduli secepat apa ia berlari dan sekuat apa
tenaganya ketika menutup pintu kamar mandi “Braaaakkkkkkk!!!”. “Astagaaaaaaa
Shevaaaaa, berisik lo pagi-pagi” keluh Tasya yang masih tertidur. “Bodooooo,
gue lagi seneng! Buruaan lo berdua bangun woy siap-siap” teriak Sheva dari
kamar mandi. “Baweeellllll” teriak Tara yang merasa tidurya terganggu oleh
percakapan kedua orang itu. Secepat mungkin ia mandi, rasa senang itu membuat
Sheva tak merasakan betapa dinginnya air dipagi hari itu. Setelah mandi ia
bergegas berpakaian. “Mau kemana lo ? buru-buru banget ? kita kan balik jam 8
?!” Tanya Tasya sedikit menyelidik. “Hmmm hehe, mau sarapan bareng Inggar” ucap
Sheva dengan tawa lebar. “Hah ?” tiba-tiba Tara terbangun mendengar ucapan
Sheva barusan. “Yaudah yaa guys, gue cabut dulu, kalian siap-siap gihhhh, bye”
Sheva melesat ke arah pintu keluar untuk menuju taman, menemui seseorang yang akhir-akhir
ini mewarnai harinya.
Tiba
ditaman, Sheva masih mencari-cari dimana Inggar menunggu dirinya. Terus mencari
dan akhirnya ia mendapati sesosok laki-laki didepan matanya, Sheva dapat
melihat punggung laki-laki itu, postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, namun
yang pasti lebih tinggi dari dirinya, dengan model rambut mohak, yang
membuatnya terlihat selalu fresh. Dan sosok itu pun berbalik badan mungkin ia
merasakan ada seseorang yang memperhatikannya sedari tadi. “Hey” Sapa nya.
Tepat laki-laki itu Inggar, Inggar yang dicari Sheva. “Hmm hey, maaf yaa agak
lama” Jawab Sheva, tak pernah bosan gadis ini memberikan senyumnya untuk
laki-laki itu tentu saja karena Sheva begitu menyukai hmm bahkan menyayanginya.
Akhirnya mereka pergi ke suatu tempat untuk sarapan bersama. Menu sarapan
mereka kala itu, roti bakar, cocok sekali untuk dinikmati di udara yang dingin
ini. “Btw, kenapa kita gak sarapan bareng aja sama yang lain ?” Tanya Sheva
membuka percakapan sambil menunggu pesanan mereka datang. “Emang kenapa ? gue
bosen pasti ngantri segala deh, udah gitu menu nya nasi goreng” jelas Inggar.
“Iya juga sih, thanks ya Kak, udah ngajak gue sarapan bareng”. “Oke, yuk
dimakan”. Mereka menikmati hidangan yang ada didepan mereka. Nampaknya
sederhana saja, roti bakar dengan secangkir teh hijau hangat yang menemani
mereka pagi itu, tapi ada yang special buat Sheva, pagi itu gak Cuma roti bakar
dan teh hijau hangat yang menjadi sarapannya, tapi senyum Inggar juga merupakan
sarapan istimewanya.
Berbincang-bincang,
mungkin hari ini hari terakhir Sheva bisa didekat Inggar, karena satu jam lagi
mereka akan kembali ke Bekasi untuk pulang kerumah masing-masing. “Lo udah
prepare buat pulang kan ?” Tanya Inggar. “Udah kok, semuanya udah beres Kak,
kenapa ?”. “Hmmm gak apa-apa gue……..” belum sempat menyelesaikan kalimatnya
tiba-tiba handphone Inggar berdering tanda telefon masuk. Inggar menatap layar
untuk mengetahui siapa yang menghubunginya, ia pun tersenyum dan mengangkat
telefonnya. “Hallo” ucap Inggar begitu lembut menyambut telefon itu. “Iyaa, aku
baik-baik aja kok” Sheva terus memperhatikan laki-laki ini dan bertanya-tanya
siapa yang menghubunginya, mengapa begitu lembut ?. “Iyaa, hari ini aku pulang,
kamu juga jaga kesehatan yaa, hmmm aku lagi sarapan sama temen aku, oke nanti
aku hubungi kamu lagi, bye Tik” dan percakapan itu pun berakhir, Sheva masih
menatap Inggar berharap laki-laki ini memberi penjelasan siapa yang
menghubunginya, tapi karena gak ada tanda-tanda penjelasan akhirnya Sheva
memutuskan untuk menanyakannya. “Siapa Kak ?”. “Ohh, ini pacar gue Shev” Ucap
Inggar dengan seulas senyum, segitu bahagaianya dihubungi sang kekasih,
mendapat perhatian,tapi tidak bagi Sheva, segitu menusuknya pernyataan dari
Inggar yang membuat dirinya mulai lemas. “Pacar ? jadi lo udah punya pacar ya ?
perhatian banget ya” ucap Sheva dengan senyum yang dipaksakan. “Iyaa begitulah,
gimana lo ? cowok lo mana ?” Tanya Inggar. “Enggak” sambil menggelengkan kepala
Sheva menjawab. Namun Inggar hanya mengangguk. “kalo boleh tau nama nya siapa
Kak ?” Tanya Sheva dengan penasaran. “Tika, dia emang beda sekolah sama kita,
jadi lo gak akan tau”. Sheva hanya mengangguk tanda ia mengerti, “Dan emang gue
gak akan pernah ingin tau” batin Sheva, sakit rasanya mengetahui yang
sebenarnya.
Selesai
sarapan Sheva dan Inggar meninggalkan tempat, dan menuju ke penginapan mereka
masing-masing untuk mengambil barang-barang mereka. “Lo jadi diem aja sih ?”
Tanya Inggar saat diperjalanan menuju penginapan. “Hmm gak apa-apa kok, gue
sedikit pusing aja” alasan yang konyol, padahal sama sekali gak ngerasain
pusing, melainkan sakit dada alias nyesek!. “Lo sakit Shev ?” Tanya Inggar
dengan ekspresi wajah yang sedikit bingung. “Gak kok, tenang aja” jawabnya
singkat. “Gue sakit banget lhooo ini seriussssss” ucap Sheva dalam hati,
hatinya mengerang, ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya. “Yaudah,
nanti diperjalanan pulang lo tidur aja, pas sampe rumah lo istirahat yaaa” ucap
Inggar sambil mengacak-ngacak rambut gadis ini. Sheva hanya tersenyum, menutupi
keperihan yang ia hadapi. Mereka pun berpisah saat mendekati penginapan.
“Inggar emang perhatian banget, tapi sayang Tika yang punya heeeuuuhhh” keluh
Sheva.
Semua
siswa pun berangkat pulang, Sheva pun saat itu lebih banyak diam,mungkin efek
nyesek yang berkelanjutan. “Diem aja lo, sarapan apaan tadi emang ?” Tanya
Tasya yang duduk disamping Sheva. “Enggak, gue ngantuk” ucap Sheva. Tasya pun
membalikan badan ke arah Tara, lalu menaikkan kedua alisnya memberi isyarat
kepada Tara, “Kenapa Sheva jadi diam” namun Tara hanya mengangkat kedua
bahunya, yang artinya ia juga gak mengerti akan sikap Sheva. 2 jam dilalui dari
Bnadung ke Bekasi, akhirnya mereka semua sampai dan berkumpul disekolah.
Dilihat sosok Inggar yang mulai turun dari bis, tapi Sheva berusaha
mengabaikan, rasanya berat sekali harus berpura-pura seperti ini. Sheva
menunggu Kak Satria di depan gerbang sekolah, tiba-tiba Inggar menghampirinya.
“Shev, pulang sama siapa ? lo masih pusing ?” Tanya Inggar yang sudah duduk
diatas motornya untuk segera pulang. “Di jemput, udah enggak kok”. “Dijemput
siapa ?”. belum sempat menjawab Kak Satria datang. “Di jemput Kakak gue, duluan
ya Kak” Sheva pun menghampiri Kak Satria, dan akhirnya motor itu pun melaju
dengan kecepatan yang tak terlalu cepat. “Cowok lo dek ?” Tanya Kak Satria saat
sedang mengendarai motor. “Gebetan tapi punya orang Kak” Ucap Sheva dengan
ketus. “Hahaha, ada-ada aja lo dek, tenang aja lagi yang suami istri aja bisa
cerai kenapa yang pacaran enggak ?” jelas Kak Satria. “Au ahhh” ucap Sheva
degan sedikit mendengus. “Dia kalo gue liat perhatian banget sama lo tadi dari
tatapannya, mungkin ajaaaa…….” Kak Satria tidak melanjutkan kalimatnya
melainkan hanya tertawa kecil. “Udah ahh Kak, gue gak mau ngarep sakit hati
gue, dan mending lo nyetir aja deh”.
Sheva
tiba dirumahnya, badanya terasa lelah sekali, dan ia memutuskan untuk tidur,
saat ia merebahkan tubuhnya kata-kata itu “Ohh,
ini pacar gue Shev” masih terngiang-ngiang dibenaknya. “Ahh, apa sih gue,
terus-terusan mikirin orang yang gak mikirin gue” keluh Sheva dengan kesal, akhirnya
ia memejamkan matanya berusaha untuk tidak mempedulikan apa yang ia pikirkan.
Hari terus berjalan, bertemu Inggar itu sudah pasti, gimana tidak mereka berdua
satu sekolah, jadi sudah pasti bertemu, kecuali kalau Sheva tidak pergi ke
kantin, mungkin seharian ia tidak akan melihat sosok Inggar. Dan benar saja
sarapan pagi itu hari terakhir Sheva dekat dengan Inggar, kenyataannya ketika
di sekolah mereka biasa saja seperti orang tidak kenal. Namun Sheva berusaha
untuk cuek tidak memikirkannya, padahal dalam hati ia ingin saat-saat itu
terulang lagi.
2 bulan
terlewati, kelas 12 persiapan menuju Ujian Nasional, termasuk Inggar, beberapa
hari lagi ia dan satu angkatannya akan melaksanakan ujian, menunggu kelulusan,
dan keluar dari SMA itu. “Bentar lagi Inggar lulus lhooo” ucap Tara. “Terusss
?” jawab Sheva. “Yaaa, lo gak mau ngasih kenang-kenangan gitu ?”. “Iyaa, tuh
Shev, biar dia inget lo terus” lanjut Tasya. “Males. Peduli juga enggak dia ke
gue” Ucap Sheva dengan ketus. Dan kedua sahabatnya hanya menggelengkan kepala
dan mengangkat kedua bahu mereka. “Tuh tuh tuh Inggar Shev, belakang lo” seru
Tasya. “Ishh, apaan sih biarin aja kali”. Inggar pun lewat dekat dengan Sheva.
“Hai Shev, apa kabar ?”. tak disangka dan tak diduga Inggar menyapa Sheva,
namun gadis ini masih terdiam, masih belum percaya apa yang sedang terjadi.
Tara pun menyikut lengan Sheva, dan akhirnya Sheva tersadar dari lamunannya
“Ohh, Baik ko Kak, lo ?” jawab Sheva dengan senyum kaku. “Gue baik juga kok,
yaudah gue duluan ke kelas ya” Akhirnya Inggar berlalu dari hadapannya, dan
kini Sheva hanya menatap punggung lelaki itu, memandangnya dari belakang.
Kejadian
istirahat tadi ketika dikantin membuat Sheva kembali merasa ada harapan, ya
harapan itu datang lagi, hampir 3 bulan ia tidak berkomunikasi dengan Inggar,
dan saat seperti tadi seperti kejutan yang sangat mengejutkan. Dering sms Sheva
pun berbunyi, sontak ia kaget karena Sheva sedang hanyut dalam lamunan, entah
apa yang ia pikirkan,segera ia membuka sms itu, “Still save my number ?”. Mata Sheva membelalak setelah membaca sms
itu, melihat siapa pengirimnya dan ternyata……
Pagi
hari Sheva bangun dengan semangat, wajahnya berseri-seri, sampai-sampai Kak
Satria heran melihat tingkahnya saat itu, “Kenapa lo ? kayaknya lagi seneng”
Tanya Kak Satria. “Gue lagi seneng, semalem Inggar sms gue, dan sekarang dia
mau jemput gue Kak” Jelas Sheva dengan antusias. “Hah? Ohh pantesan aja, jadi
sekarang udah gak butuh ojeg gue lagi nih ?” jawab Kak Satria. “Enggak” sambil
menggelengkan kepala dan Sheva pun menjulurkan lidahnya, akhirnya ia berlari
menuju teras. “Awaaaasss lo yeee kalo minta anterin kemana-mana” Teriak Kak
Satria sambil tersenyum lebar, akhirnya adik kesayangannya gak galau lagi.
Mereka
pun berangkat bersama, hati Sheva senang berbunga-bunga ia merasa rasa itu
hadir lagi, walaupun Sheva belum mengetahui apa-apa lagi tentang hubungan
Inggar dengan Tika setelah sarapan pagi di Bandung 2 bulan lalu. Karena
penasaran akhirnya Sheva memberanikan diri menanyakan hal itu pada Inggar.
“Btw, pacar lo gak marah Kak ?” Tanya Sheva dengan hati-hati. “Enggak kok,
marah kenapa ?”. “Kok marah kenapa ? kan lo lagi sama cewek lain ?”. “Hahaha,
gue gak sejahat itu kali Shev” Ucap Inggar. “Putus ?” jawab Sheva dengan Cepat.
“Hmm, Kepo lo hahaha”. Sheva pun hanya mendengus kesal mendengar jawaban Inggar.
Kebahagian
itu kembali lagi, 2 minggu pun berlalu, semua semakin membaik, namun pagi itu
pun datang menghampiri Sheva yang sedang duduk di kelas menunggu pergantian jam
pelajaran. Sambil menunggu guru saat itu, Sheva mengambil handphonenya dan
mulai membuka akun twitternya untuk menghilangkan rasa bosan karena hujan yang
membuat guru-guru jadi terlambat masuk kelas. Sheva mulai aksinya stalking akun
Inggar. Tapi ternyata Inggar belum online dari beberapa hari lalu, akhirnya
dengan iseng, Sheva mencoba-coba stalking akun yang menurutnya itu Tika. Entah
masih pacar atau sudah menjadi mantannya Inggar. Mata Sheva mulai meneliti isi
timeline, Sheva mulai curiga karena timeline yang baru-baru adalah ucapan
“terimakasih dan Aamiin”. “Hmm, ulang tahun nih kayaknya” Tebak Sheva. Sheva
terus stalking akun itu dan tiba-tiba saja matanya membelalak “Happy
Anniversary 1st year @Inggardwi” kalimat itu yang jelas terekam
dibenak Sheva. Seperti dihujani beribu-ribu jarum, rasanya sesak, perih, nafas
Sheva mulai tercekat, ia bangun dari duduknya dan menghampiri para sahabatnya
dengan raut wajah lesu klimaks. “Kenapa lo Shev ?” Tanya Tasya yang mulai
menyadari raut wajah Sheva. Diikuti dengan Tara yang menatapnya penuh Tanya.
“Anjiiiirrr, gue nyesek broohhh” sambil berkata Sheva memberikan handphonenya
kepada kedua sahabtanya itu untuk memberi tahu apa yang baru ia lihat. “Serius
?” Tanya Tara yang tak kalah kagetnya. “Wah, jahat banget si Inggar, udahlah
Shev lo jauhin aja cowok kayak gitu, gak bagus” cetus Tasya. Sheva hanya
terdiam entah harus menjawab apalagi, kakinya terasa lemas, dadanya sesak, dan
matanya mulai panas tapi sebisa mungkin ia menahan semua itu, termasuk air matanya.
Tasya dan Tara memeluk Sheva yang masih mematung didepan mereka. “Udah selaw
aja, gue gak apa-apa, gue juga udah ngira kalo bakal kayak gini” Ucap Sheva
dengan berusaha tersenyum. “Udahlah Shev gak usah sok kuat” ucap Tara. “Percuma
gue nangis juga, gak bakal bikin mereka putus” Ucap Sheva tertunduk. “Udah
mending kantin yuuukkk” Balas Tasya yang berusaha mencairkan suasana. Hujan itu
pertanda hati Sheva.
Apa
yang telah Sheva lalui dengan Inggar ternyata gak ada artinya dibanding
hubungan Inggar dengan Tika. “Oke, gue gak akan ganggu lo lagi, tapi kenapa lo
sejahat ini sih ? Apa salah gue ? Ternyata bener ya kata orang lo itu PHP!”
Ucap Sheva membentak didepan foto Inggar bersama dirinya waktu dikebun stroberi.
Tiba-tiba Kak Satria masuk kekamar Sheva “Lo nape ? marah-marah mulu ?”. “Au ah
blebek! Gue ngantuk!” Jawab Sheva sambil membaringkan tubuhnya ke kasur. “Pasti
gara-gara si itu yaa, siapa namanya….aduh kok gue lupa si” Kak Satria berusaha
mengingatnya, dengan nada kesal Sheva menjawab
“Inggar sialan”. “Setttdaahh, galak banget neng hahaha” “Diapain lo ?”.
Tanya Kak Satria. “Dia tuh tukang PHP! Ahhhh tau ahhh gue kesel Ka kalo
inget-inget dia” Jawab Sheva. “PHP ? Yakin ? Lo nya aja kali yang salah tanggep
sama dia” Jelas Kak Satria. “Salah tanggep apasih ? Udah ahh lo keluar deh gue
pengen tidur”. “Iyeee, jangan galau yak” Ucap Kak Satria sambil mengacak-ngacak
rambut adiknya dan keluar dari kamar Sheva.
Waktu
terus berlalu, Sheva berusaha menghindar untuk melihat atau berpapasan dengan
Inggar. Ia lebih memilih menunduk ketika harus berhadapan dengan lelaki
tersebut ataupun pura-pura tidak melihat dirinya. Entah Inggar merasakannya
atau tidak. “Gue udah gak akan pernah mau peduli lagi” tegas Sheva dalam hati.
Saat itu istirahat berlangsung, Sheva dan kedua sahabatnya menuju kantin. Dari
kejauhan Sheva sudah melihat sosok Inggar yang duduk didepan kelasnya.
Pandangan Sheva focus kedepan tanpa melirik ke arah Inggar sedikitpun.
Tiba-tiba “Shev…Shev…Inggar nih, sekarang jadi anggota TNI” Teriak salah satu
teman Inggar yang berada disekitar situ. Dengan melirik sinis Sheva berkata
“Terus apa hubungannya sama gue ? Penting gitu ?” Ucap Sheva sambil berlalu,
entah Inggar dan temannya mendengarnya atau tidak, Sheva tak peduli, padahal
dalam hati ia berkata “Ohh daftar Akmil ternyata, sukses deh”.
Inggar
sudah mulai luntur dari bayang-bayang Sheva, sakit itu yang bisa membuatnya
dengan mudah melupakan sosok Inggar. Tinggal kenangan yang tersisa, indah tapi
sakit. Andai aja dari awal Inggar bisa jujur dengan Sheva, pasti gaka akan
sesakit ini. “Ahh Shit” ucap Sheva,bayang-bayang itu sesaat melintas. “Semoga
lo bahagia Gar, maaf gue karena sayang sama lo, selalu berharap lebih, tapi
kebahagian lo Cuma sama Tika, So, gue bisa apa ? Gue Cuma bisa berdoa lo sama
Tika bisa langgeng terus, bahagia lo bahagia gue, walaupun kalimat itu
sepertinya agak sedikit munafik. Tapi gue juga punya kehidupan, dan gak akan
stuck di lo yang udah sama yang lain, makasih Gar buat semua yang lo kasih,
tanpa lo sadar tingkah lo yang selalu buat semangat gue bangkit J”
Mungkin
bisa dibilang Sheva sukses move on dari Inggar, tapi entah tanpa ada yang tahu
sebenarnya hati kecilnya masih sedikit berharap pada lelaki ini. Setiap cowok
yang dekat dengan Sheva, cewek ini selalu menanggapinya dengan dingin. Hingga
akhirnya ia pun bingung pada dirinya sendiri. “Ra, kenapa sih gue gak bisa suka
sama orang yang suka sama gue ?” Tanya Sheva pada Tara. “Lho ? kok nanya gue ?
Ya lo Tanya diri lo sendiri lah Shev” Jawab Tara. “Apa guenya aja ya yang gak
bisa buka hati ?” Ucap Sheva. “Kalo gue bilang sih lo masih focus disatu orang
deh Shev”. “Maksud lo ?”. “Iyaaa, kalo gue liat si lo masih ngarep kali ya sama
Inggar”. “Inggar ? masa sih ?”. “Yaa, lo Tanya aja diri lo, dan kalo lo gak mau
kayak gini terus lo buka hati deh buat yang lain”. Sheva pun hanya mengangguk.
Menjelang
Ujian kenaikan kelas, hari itu hari Sabtu Kelas 3 sudah dinyatakan lulus. Dan
Sabtu itu jadwal kelas 3 mengambil rapot. Sheva dan kedua sahabatnya berjalan
menuju kantin. “Rame banget ada apa ya kelas 3 pada kemari ?” Tanya Tasya.
“Bagi rapot kali.” Ucap Sheva. “Ahh gue mau cari Kak Rayn ahh” Ucap Tara dengan
senyum-senyum. “Kalo gue mau nyari Kak Rendi ahh” Balas Tasya gak mau kalah.
Melihat tingkah kedua sahabatnya itu Sheva pun tak mau kalah “Gue mau nyari
pacar orang ahh!” Ucap Sheva dengan keras. Tara dan Tasya pun tertawa, “Hahaha
maksud lo Inggar ?” Tanya Tasya. “Iyalah siapa lagi…hehehe” jawab Sheva dengan
malu-malu. Dan sosok yang dicari Sheva ternyata hadir. Lelaki itu memakai
kemeja hitam berlengan panjang yang digulung, dengan celana jeans. Simple tapi
terlihat begitu menarik. Sheva mengalihkan pandangannya ketika hampir melewati
dimana Inggar berdiri.
Tiba
dikantin seperti biasa mereka memesan makanan. “Shev, gue kasih yaa surat lo
itu ke Inggar ?” Tanya Tasya dengan senyum lebar. “Ahh enggak ahh” Jawab Sheva
ketus. “Ihh, lo kan waktu itu udah janji Shev mau ngasih” Tambah Tara. “Tau lo masa
gak jadi sih, biar gue sama Tara deh yang ngasih ?” Jelas Tasya. “Gak mau ahhh,
udah sini biar gue yang simpen”. “Gak ahhhh” Tolak Tasya sambil menyantap
makanannya. “Pokoknya nanti gue kasih” Lanjut Tasya. Sheva hanya terdiam malas
untuk melanjutkan debatnya.
Mereka
bertiga telah menyelesaikan makannya dan memutuskan untu kembali ke kelas,
otomatis mereka melewati lagi dimana Inggar berdiri. Sheve tetap berlaga
seperti dia tidak melihat Inggar disana. Kedua sahabatnya heboh menyikut tangan
Sheva. “Yok kasih suratnya” Ajak Tara. “Sebentar gue ambil dulu” Tasya berlari
ke kelas menuju tasnya dan mengambil suratnya, Sheva masih terdiam dan baru
sadar saat Tasya sudah menjauh dari sisinya “Ehhh…..” Sheva berusaha mengejar
Tasya. Saat Sheva berpapasan dengan Tasya, Tasya berusaha menghindar karena
takut surat itu akan direbut. “Gue kasih, udah lo tunggu aja” Ucap Tasya sambil
berlari. Sheva berpasrah dan mengamati Tasya dan Tara yang mulai beraksi.
Mereka mendekati Inggar dan “Kak, nih dari Sheva” ucap Tasya sambil memberikan
suratnya. “Sheva nya mana ?” Tanya Inggar. “Tuhhh” Kompak Tasya dan Tara
menunjuk ke ruang kelas atas dimana tempat Sheva berdiri dan Sheva spontan menunduk.
Beberapa saat kemudian Tasya dan Tara menghampiri Sheva. “Sya, bilangin jangan
dibaca sekarang!” Seru Sheva. “Kak Inggar….kata Sheva jangan dibaca sekarang.
Udah dibaca ya ?”. “Ohhh iyaa, baru setegah kok. Tapi gue udah gak sama dia”
Ucap Inggar dan membuat Tara histeris “Yaaa ampun Shev, itu kode lhooo!”. “Apa
sih, coba yang jelas” Tanya Sheva dengan ekspresi bingung. “Udah engga sama
siapa kak ?” Tanya Tasya lagi untuk memperjelas semuanya. “Yaa sama doi” balas
Inggar. “Tuhkan, berarti mereka putus” Ucap Tara. Sheva terdiam kaget enath
harus seperti apa.
Malam
harinya, Inggar ternyata sms Sheva. Kaget mendapat sms dari Inggar. Inggar
berkata “Makasih Shev buat suratnya, maaf kalo selama ini lo ngerasa gue PHP in
lo. Gue emang udah putus sama Tika, karena gue mau focus, tapi gue bebas kok
deket sama siapa aja. Dan lo juga jangan terlalu berharap sama gue Shev, karena
juga gak ada yang tau kalo nanti gak akan kayak kemarin-kemarin”

Komentar