Mati satu Tumbuh Lagi :)
Just
You Are
Pagi,
Meli baru saja datang
ke
sekolah dan disekolah
pun terjadi heboh-heboh
yang membuatnya ingin
tau .
“Ada rame-rame
apasih nih ?” Tanya Meli pada salah
satu murid yang
berdiri didepan kelas
XI IPS 2 .
“Itu Mel,
katanya ada anak
baru pindahan dari
Bandung” Jawab murid tersebut .
“Hmmm, pantas
saja pada tampil
beda”
Memang benar,
penampilan siswi-siswi SMA
Citra Harapan menjadi
tak seperti biasanya,
dengar kabar katanya sih
siswa pindahan dari
bandung itu sangat
cool . Karena penasaran
akhirnya Meli memutuskan
untuk masuk ke dalam
riungan para cewek-cewek
yang sedang cari
perhatian sama tuh anak baru .
“Mana sih
anak barunya ?” seru
Meli .
Dan ternyata….. Ohh My
God !!! sempat
terdiam melihat sosok
cowok itu, dan
akhirnya Meli memutuskan
untuk kembali ke
kelas . Sosok
yang tinggi, putih,
hidung mancung, dan
ternyata dia keturunan
Arabian .
“Emang cakep
sih, tapi jadi besar kepala
aja tuh cowok
!”
“Lo kenapa
Mel ?” Tanya
Rosa teman sekelas
Meli
“Ohh… iya
Ros, keebetulan gue
mau tanya deh ?”
“Mau Tanya
apa Mel ?” jawab
Rosa
“Anak baru
itu namanya siapa
sih ?”
“Ohh, si
Mahda, kenapa Mel ?
Lo suka
yaa ? Haha”
“Idiihh… apaan
sih lo, gue
Cuma kesel aja
sama gayanya, mentang-mentang banyak
yang deketin jadi
sok paling oke
aja !” sahut
Meli dengan nada
yang tinggi .
“Hmmm.. santai
aja kali Mel,
gue kira lo
suka.. hehe
“Gak deh,
jangan sampe !!!”
Namun semakin
hari diam-diam Meli
semakin penasaran akan
sosok Mahda .
“Ishh.. apaan
sih gue kenapa
gue jadi mikirin
dia terus, ahh…
gila, daripada gue
mikirin tuh cowok
mending gue tidur
!” seru Meli .
Keesokan harinya
ada upacara, Meli
ditugasin buat jaga
di barisan yang
super panas . Yap, karena Meli
salah satu anggota
PMR disekolah jadi
sudah jadi tugas
dia buat jaga
barisan kalau-kalau ada yang
sakit . Tanpa
Meli sadar ternyata
dibarisan itu ada
Mahda . “Ihh… bisa
kebetulan gini yaa”
protes Meli dengan
suara pelan .
Dengan sedikit
ngelirik ke arah
Mahda, Meli tau
kalau Mahda sedang
memperhatikan dirinya . Tetapi
biarpun begitu Meli
harus Stay Cool
didepan cowok itu
. Tiba-tiba ada
suara teriakan “Mel,
dapet salam nih
dari Mahda !” .
“Hah ?” Sontak
Meli kaget, tapi
Meli tetap terlihat
masa bodo dengan
celetukkan itu .
Selesai upacara
Meli langsung menuju
ruang PMR .
“Ros, tau
gak tadi gue
jaga di barisan
Mahda !” ungkap
Meli .
“Wahh… seneng
kan lo Mel ?”
“Apaan sih
lo, yang ada
gue malu gara-gara
temennya Mahda ngecengin
gue” jawab Meli .
“Kok bisa
sih, kayanya Mahda
tertarik tuh sama lo…
Hahaha” ohh, iya
Mel, kalo lo
mau nomornya Mahda
bilang ke gue aja
yaa, siapa tau
aja lo berubah
pikiran tentang Mahda”
“Ahh… tau
deh, masa iya
gue berubah pikiran
?” Tanya Meli
dengan ragu .
Sejak kejadian
dilapangan itu, teriakan
itu dan pernyataan
dari Rosa kalau mungkin
Mahda tertarik pada
Meli, Meli pun
semakin penasaran dengan
cowok itu, dan
memutuskan untuk mengenal
Mahda . “Aduhh…
gue jadi bingung harus
gimana ? kalo gue
mulai duluan nanti
dia ke GR’an lagi
?”
“Ahh… gak
tau lah… Mahda
lagi Mahda lagi
jadi ribet gini
hidup gue” Ucap
Meli sambil menutup
muka dengan kedua
tangannya .
Bel pulang
sekolah berbunyi nyaring
saat itu “Rosa,
tunggu …. !” teriak
Meli dari kejauhan
.
“Ada apaan
Mel ?” Tanya
Rosa dengan menyipitkan
matanya .
“Hmmm… gue
mau minta nomornya
Mahda dong ?”
jawab Meli dengan
malu-malu .
“Hahaha…. Meli….
Akhirnya lo suka
juga kan sama
dia” Rosa meledek
Meli yang mukanya
seketika menjadi merah . “Nih
Mel, nomornya Mahda”
Rosa memberikan handphonenya
kepada Meli .
“Iiihh, emang
kalo gue minta
nomornya dia tandanya
gue suka gitu
?” jawab Meli dengan
kesal . “But thanks yaaaaa” senyum
tipis terlihat dibibir
Meli .
“Yahh, gue
mana tau, mungkin
aja gitu, iya
Mel, sama-sama” jawab
Rosa dengan senyum
.
“Siiplah, gue
pengen tau aja
dia orangnya kayak
gimana” ujar Meli .
“Yaudah iyaa,
selamat mencoba ya
darling… hihi, gue
duluan yaa bye” jawab
Rosa sambil melangkah
pergi dan melambaikan
tangannya .
Ketika Rosa
pergi dari hadapan
Meli, barulah ia
menyunggingkan senyuman tanda
puas .
Ketika malam
tiba, Meli membaringkan
tubuhnya dikasur dan
mulai berpikir apa
yang harus ia
kirim untuk memulai
percakapan .
“Haduuhh… kenapa
sih gue jadi
kaya orang gak
jelas, mau sms
aja bingung” desah
Meli
Dan tanpa
basa basi lagi
Meli mulai mengetik
“Woy… Mahda ya ?”
terkirim sudah sms
itu, dan Meli
tinggal menunggu balasan
dari cowok itu .
Beberapa saat
kemudia handphone Meli
berbunyi nada sms,
Meli segera membuka
sms itu dan
membacanya “Iya, ini
siapa ?” .
Setelah membaca
sms itu, perasaan
Meli berubah menjadi
seneng yang pake
banget, alias seneng
banget tanpa disadari
senyuman mungil muncul
dari bibir Meli,
bergegas Meli membalas
sms dari Mahda
. “Ohh, iya
ini gue Meli,
gue anak kelas
atas kelas lo”
balas Meli .
Mahda membalas
lagi “ Lo yang
mana ya ?
yaudah salam kenal
ya J”
“Oke pokoknya
gue anak PMR,
iya salam kenal
juga J” Senyum
Meli semakin melebar
setelah mengirim balasan
itu .
Tiba-tiba dering
sms itu berbunyi
lagi, karena Meli
pikir percakapan mereka
telah berakhir dan ternyata
“Ohh, lo yang
waktu itu diteriakin
temen gue ya ?”
Sontak Meli
kaget membaca sms
dari Mahda, teryata
Mahda masih ingat
kejadian itu, “Ahh sial kenapa
dia masih mengingat
kejadian konyol itu”
keluh Meli .
Dan segera Meli
membalas sms dari
Mahda itu, “Hah ?
hehe iyaa, yaudah
ya gue udah ngantuk mau
tidur duluan yaa,
Good night” sengaja
Meli mengalihkan pembicaraan
tersebut karena dia
tak ingin membahas
kejadian tersebut .
“Oke, night
too ya” itulah balasan
terakhir dari Mahda
.
Itulah awal
perkenalan Meli dengan
Mahda, dan sekarang
penilaian Meli untuk
Mahda berubah, Meli
menganggap Mahda is
easy going boy . Hari
ke hari Meli
dan Mahda semakin
dekat, Mahda selalu
hadir dipikiran Meli
begitu saja, tapi
kali ini Meli
tidak mengeluh akan
bayangan itu, Meli
seperti menikmati hadirnya
sosok Mahda dalam
benaknya . Dan
saat itu juga
Meli merasa Mahda
memberikan harapan lebih
padanya …
Siang menjelang
sore, saat itu
Meli mau berangkat
ke sekolah karena
disekolah mau diadain
pelantikan extrakulikuler, dan
saat itu juga
Meli sedang asyik
melanjutkan percakapan dengan
Mahda melalui sms . “Da,
udah dulu ya,
gue mau ke
sekolah” .
“Mau ngapain
? Mau bareng
sama gue nggak
? gue lagi
dirumah temen gue
nih, yang deket
sama rumah lo”
“Hah ?
lo lagi dideket
sini toh, hmm,
yaudah lo tunggu
di lapangan Tennis
aja ya” Dengan
jantung yang berdebar-debar, Meli
langsung bergegas keluar
dan menuju ke
lapangan Tennis, tempat
dimana Mahda menunggu
. Dan ketika
sampai di lapangan
Tennis, ternyata Mahda
sudah menunggu disana,
duduk diatas motor
Ninja Merah dengan menggunakan
helm full face .
“Hei… udah
lama ya ?”
Sapa Meli yang
datang dari belakang
Mahda .
“Ahh, engga
kok, baru aja
sampai” jawab Mahda,
dengan senyuman khasnya
yang membuat cewek-cewek
disekolah tergila-gila padanya
.
Akhirnya Meli
dan Mahda beranjak
dari tempat, sepanjang
perjalanan Meli dan
Mahda begitu menikmati
perbincangan mereka, sampai
tak sadar kalau
mereka sudah sampai
disekolah . “Wuihh,
jagoan banget lo
Da, udah dapet
cewek baru aja”
tiba-tiba Rangga, datang
dan meledek Mahda
dengan senyum lebar
.
Tetapi Meli
dan Mahda hanya
tersenyum, Meli begitu
memperhatikan gerak-gerik Mahda,
cowok itu tampak
terburu-buru dan ingin
cepat-cepat pergi dari
depan gerbang sekolah
.
“Oke Mel,
gue cabut duluan
ya” seru Mahda
.
“Ohh, iyaa,
thanks ya buat
tumpangannya, hati-hati ya”
jawab Meli, dan
memperhatikan Mahda yang
hanya tersenyum kemudian
menancap gas meninggalkan
gerbang sekolah .
Meli pun
masuk ke dalam
sekolah . “Ciee…
Meli dianter sama
cowok impian hihi”
ledek Rosa yang
tiba-tiba datang dari arah kiri
Meli . “Haha,
bisa aja lo
Ros” Meli pun
tertawa lebar . “Ros,
kenapa ya kok
gue seneng banget
tadi ? Jangan-jangan
gue beneran suka
lagi sama Mahda
?” Meli pun
terdiam seketika .
“Hayo lhoo
Mel, kemakan lo
sama omongan lo
waktu itu !”
Jawab Rosa dengan
ekspresi yang membuat
suasana berubah menjadi
tegang .
“Ahh, yang
bener aja lo
? gimana dong
kalo misalnya gue
beneran suka sama
Mahda ?” balas
Meli dengan nada
yang sedikit tinggi
.
“Yaudah sih
gak apa-apa kali
Mel, lagian kayaknya
Mahda juga suka
sama lo” ungkap
Rosa dengan senyum
tipis .
“Hahahaha… gak
mungkin orang kayak
dia suka sama
gue Ros, kenal
aja baru masa
langsung suka gitu
aja” sahut Meli
. Padahal dalam
hati Meli, dia
mengharapkan kalau benar
Mahda menyukainya .
Setelah menyelesaikan
pelantikkan disekolah, Meli
pulang dan langsung
menuju ke kamar
karena lelah .
Dari pernyataan
Rosa kemarin membuat
Meli jadi berpikir
tentang semua ini
“Mahda, apa bener
lo suka sama
gue ?” Tanya Meli dalam
hati . “ Kenapa
harapan gue tinggi
banget sih L” Jerit
Meli sambil menutup
mukanya dengan bantal
.
Semakin hari
kedekatan Meli dan
Mahda semakin baik,
bahkan ada yang
mengira kalau mereka
itu sudah pacaran,
Meli selalu berharap
kalau emang Mahda
menyukainya, cewek ini
ingin Mahda mengungkapkannya .
“Ros, ternyata
perasaan gue gak
bias dibohongin” suara
Meli membuat Rosa
kaget .
“Kenapa lo
Mel, pagi-pagi bikin
orang jantungan aja lo”
cetus Rosa .
Dengan perasaan
ragu yang mebuat
Meli deg-degan dan
dengan tatapan yang
tajam mengarah Rosa
akhirnya Meli mengumpulkan
nyali untuk berkata
“Iya, gue suka
sama Mahda” ucap Meli
dengan lirih .
Tatapan Rosa seketika berubah,
matanya membelalak bagaikan
melihat penampakan yang
menyeramkan, tetapi pandangan
mata Rosa tiba-tiba
berubah menyipit karena
dia tertawa mendengar
pengakuan dari Meli
. “Hahaha… cie
cie Meli… Meli
lo bikin gue
mau ngakak tau
gak hihi” Ledek
Rosa sambil menepuk
pundak Meli .
Tapi Meli masih
terdiam sejak dia
mengakui semua itu
. “Tapi, hati-hati
ya Mel, Mahda
suka 5in cewek”
jelas Rosa dengan
nada yang serius
.
“Hah ? gak kurang
banyak tuh ? sahut
Meli dengan nada
yang begitu kaget
mendengar pernyataan dari
sahabatnya itu .
Tetapi Rosa
hanya tersenyum dan
mengangkat kedua bahunya
.
“Ternyata Mahda
gila juga ya,
punya cewek aja
sampai 5 begitu
kayaknya punya pacar
satu aja udah
repot gimana 5
!” ucap Meli
dalam hening .
“Apa Mahda
bias 5in gue
kalo suatu saat
gue bias sama
dia ?” pikir
Meli .
Akhirnya Meli
beranjak dari lamunannya
dan mengambil hanphonenya,
ditekannya nomor handphone
Ka Harry .
“Hallo Kak, lagi
dimana ?” Tanya
Meli dari sebrang
sana .
“Lagi dirumah
Mel, ada apa ? Kok
tumben nelfon Kakak
?” jawab Harry
dengan heran .
“Aku mau
ketemu Kakak, aku
mau curhat nih
Kak, bisa kan
?” Tanya Meli
dengan nada sedikit
memohon .
“Ohh, iya
bias kok Mel,
kebetulan hari ini
Kakak lagi gak
mau kemana-mana, emang
mau ketemu dimana
?”
“Ketemu di
Café Vizta aja ya Kak
? jam tiga aku
tunggu
disana” seru Meli .
“Oke deh
Mel, see you
yaa bye” jawab
Harry, dan terputuslah
percakapan mereka .
Meli mulai
siap-siap berganti pakaian
untuk pergi .
Harry, cowok ini
memang sudah lama
sekali mengenal Meli,
mereka begitu akrab
. Harry juga
senior di SMA
dimana Meli bersekolah
. Sempat dahulu
Meli mengagumi Harry,
malahan sampai berharap
lebih . Tapi
Meli sadar dia
tidak akan bisa
membuat Harry mencintainya,
karena banyak cewek-cewek
disekeliling Harry yang
lebih cantik dari
Meli hingga membuat
Meli memendam perasaannya
dan sejak pemikiran
itulah Meli mulai
membatasi perasaannya kepada Harry
.
Waktu menunjukkan
pukul 3 kurang
sepuluh menit, dan Meli
sudah duduk di
salah satu meja
di Café itu
menunggu Harry datang
. Tak lama kemudian
ada sosok cowok,
muka asli Indonesia
banget, memakai kaos
dengan celana jeans,
tinggi dan putih,
berjalan ke arah
meja yang Meli
tempati . “Sudah
lama ya Mel
?” Tanya Harry
yang tiba-tiba muncul
dari arah belakang
Meli .
“Ehh, Kak
Harry… engga juga
kok Kak, ayo
duduk Kak” Ujar
Meli dengan senyum
khasnya .
Mereka sempat
terdiam bisu, Meli
terlihat grogi karena
didepannya langsung ada
Harry, cowok yang
pernah ia taksir,
tapi Harry tetap
bersikap tenang dan
telihat mencari kata-kata
untuk memulai percakapan
. “Kamu mau
cerita apa Mel
?” Tanya Harry
.
“Hmmh… hehehe”
Meli sempat terkejut
karena suara Harry
yang memecahkan pandangan
ia pada Harry
. “Aku lagi suka
sama seseorang nih
Kak ?” jawab
Meli dengan sedikit
malu-malu .
“Siapa tuh
Mel ?” Tanya
Harry dengan tatapan
yang tajam .
“Itu Kak,
yang namanya Mahda,
anak baru dari
Bandung” jawab Meli
dengan begitu antusias
.
“Ohh, dia
Kakak tau kok,
kamu yakin suka
sama dia ?
Kamu udah tau
tentang dia belum
?” Tanya Harry
dengan serius .
“Iya Kak, tau
? tau apa
emang kak ?
Tanya Meli dengan
raut wajah yang
penasaran .
“Dia bandel
Mel, dia suka
tawuran waktu di
sekolah yang lama”
Jelas Harry dengan
tenang .
Tiba-tiba suasana
menjadi hening sesaat,
Meli terdiam saat tau
tentang Mahda yang
diungkapkan Harry tadi .
“Emangnya Kakak
tau darimana ?”
Tanya Meli sambil
menatap Harry dengan
tajam .
“Hmmm, waktu
itu Ramlan cerita
sama Kakak Mel
tentang anak baru
itu, tapi kalau
kamu emang suka
sama dia ya
gak masalah Mel,
siapa tau dia
berubah, atau kalau
belum berubah mungkin
aja suatu saat
kamu bisa ngerubah
dia jadi lebih
baik, Kakak doain
buat kamu apapun
yang terbaik Mel” Jelas Harry
dengan senyuman .
Ramlan, dialah sahabat
Harry dari kecil
walaupun umur mereka
berbeda satu tahun
tapi mereka sangat
kompak .
“Iya, makasih
ya Kak” hanya
ucapan itu yang
terlontar dari bibir
Meli, karena dia
sudah tidak tau
harus berkata apa
lagi .
Setiba dirumah
Meli langsung masuk
ke kamarnya .
“Mahda kenapa lo
selalu hadir dipikiran
gue ?” ucap
Meli didepan cermin
.
Hujan pun
turun sore itu,
Meli keluar dari
kamar dan berjalan
meniju teras rumahnya .
Mulailah bayangab-bayangan tentang
Mahda menghantui pikirannya,
udaranya juga sangat
mendukung untuk terus
melanjutkan lamunan, karena
hujan udara sejuk
menemani hati .
Pulang sekolah,
waktu menunjukan pukul
10.00, saat itu
sengaja murid-murid dipulangkan
cepat karena guru-guru
akan mengadakan rapat
. Meli dan
teman-temannya berkumpul ditaman
sekolah . “Main
kek yuk masih
jam segini nih”
ajak Meli pada
teman-temannya .
“Ayoooo, main
bosen nih masa
langsung pulang” tambah
Nova .
“Emang mau
main kemana ?”
Tanya Rosa pada
teman-temannya .
“Hmmm, kerumah
Mutia aja yuk
? aja Nova,
dan serentak mereka
semua memalingkan wajah
ke arah Mutia
dan tersenyum lebar
.
“Yaudah gue
sih ayo-ayo aja
… hehehe” jawab
Mutia .
Akhirnya mereka
berangkat kerumah Mutia
. Setelah beberapa
saat diperjalanan akhirnya
mereka sampai dirumah
Mutia . “Terus
ngapain nih kita
?” Tanya Rosa .
Mereka semua
diam dan berpikir
apa yang asyik
untuk dilakukan .
Tiba-tiba lamunan mereka
terpecah dengan suara
Meli yang begitu
bersemangat “Nah, gue
tau . Gimana
kalau kita petualang
aja ?”
“Petualang ?
kemana ?” Tanya
Rosa .
“Gimana kalau
kita cari rumahnya
Mahda ?” seru
Meli dengan senyuman
lebar .
“Emangnya rumah
Mahda dimana Mel ?”
Tanya Mutia .
“Katanya sih
deket SMA Marunda
Mut, gak jauh
kan dari sini
?” jelas Meli .
“Yaudah yuk, sekalian kita
jalan-jalan” Ajak Nova
dengan bersemangat .
Akhirnya mereka
semua beranjak dari
rumah Mutia menuju
perumahannya Mahda .
Setelah lama berjalan
akhirnya mereka sampai
di dekat SMA
Marunda . “Mel,
telfon Mahda suruh
tunggu dia di
SMA Marunda” seru
Rosa .
Meli mengeluarkan
handphonenya dan mencari
kontak nama Mahda
. “Hallo, Mahda
? Da, aku
ada di SMA
Marunda nih, kamu
bisa kesini gak
?” Tanya Meli
dari sebrang sana .
“Ohh, sama
siapa aja ?
Yaudah Mel, kamu
tunggu aku disana
yaa” sahut Mahda
.
“Sama teman-teman
aku, oke deh
aku tunggu” percakapan
pun berakhir, dengan
wajah berseri-seri Meli
menekan tombol merah
pada handphonenya .
“Jiaaahh… manggilnya
udah aku kamu
nih yee” Ledek
teman-teman Meli .
“Yaa, gak
apa-apa dong kan
biar lebih akrab
aja… hehehe” Jawab
Meli dengan senyum
malu .
Setelah beberapa
lama menunggu Mahda,
akhirnya dia datang
juga . Saat Mahda
datang wajah Meli
berubah menjadi merah .
Mereka pun berbincang-bincang dengan
Mahda, Meli tampak
senang sekali bisa
ngobrol lagi secara
langsung bareng Mahda
. Pertemuan mereka
gak berlangsung lama,
karena cuaca yang mulai mendung
akhirnya Meli dan
teman-temannya memutuskan untuk
kembali kerumah Mutia
.
“Da, kita
balik dulu ya,
udah mendung nih”
Ucap Meli .
“Yaudah kamu
aku anter sampai
depan ya ?”
Mahda menawarkan tumpangan
pada Meli .
“Ehh…tapi …” belum
sempat melanjutkan ucapannya,
teman-teman Meli sudah
memotongnya “Udah gak
apa-apa Mel, lo
sama Mahda aja,
kita naik angkutan
umum aja sampai
depan, nanti kita
ketemuan disana ya” Jelas Nova
sambil senyum-senyum bersama
Mutia dan Rosa .
Sesampai ditempat
mereka tentukan tadi
akhirnya Meli pamit
pada Mahda .
“Kapan hari
indah ini akan
terulang lagi” Ujar
Meli dalam hati .
Setelah lama
mengenal Mahda, lama-lama
Meli semakin berharap
kepada cowok itu
. Tapi pada
nyatanya Mahda gak
pernah ngomong apa-apa
tentang perasaannya .
“Ros, sebenernya
Mahda suka gak
sih sama gue
? Apa Cuma
guenya aja yang
kelewat PD ?” Tanya Meli
dengan nada yang
melemah .
“Gini Mel,
sebenernya Mahda emang
suka sama lo,
tapi dia belum
siap buat ungkapinnya,
dia takut kalau
nanti nyakitin lo”
Jelas Rosa pada
Meli .
Meli hanya
terdiam dan tersenyum
yang dipaksakan .
“Apa-apaan tuh cowok,
alasan yang gak
banget sumpah” gerutu
Meli sambil berjalan
meninggalkan Rosa . Masalah
perasaan Meli, dia
hanya menumpahkan semuanya
melalui tulisan puisi
atau dia curhat
sama Kak Harry
. Sangking bingungnya
Meli nekat bertanya
pada Rosa, “Ehh..
Ros, sebenernya Mahda
suka cewek yang
kayak gimana sih
?” Tanya Meli .
“Dia tuh suka sama
cewek yang agresif”
jelas Rosa .
“Hah ?
Maksud lo ?”
sontak Meli kaget
mendengar pernyataan Rosa .
“Iya Mel,
dia tuh suka
sama cewek yang
nyamperin dia gitu
deh intinya”
Meli terdiam
sejenak, dan berpikir
“Masa iya gue
jadi cewek kayak
begitu ? ihhhh”
“Gila kali
gue jadi agresif
kayak gitu” Sahut
Meli dengan nada
tinggi .
Akhirnya Meli
pergi meninggalkan Rosa,
berjalan dan terngiang-ngianglah kata-kata
yang pernah Kak
Harry katakana padanya
“Mel, lebih baik
kita jadi diri
sendiri, gak usah
jadi orang lain,
lagian jadi diri
sendiri itu kan lebih
enak” itulah kata-kata
yang pernah diucapkan
sama Kak Harry
.
Dan dari
situlah Meli memutuskan,
yaa memang dia
harus jadi diri
dia sendiri .
Meli selalu
mengawali hidupnya dengan
senyum, setiap dia
ketemu Mahda, dia
hanya say Hai
aja, karena cewek
ini masih terkesan
malu-malu .
Mahda, Mahda,
Mahda, Meli selalu
mikirin dia, dan
kadang terlintas dipikiran
Meli, kenapa Mahda
seperti ngasih harapan
pada dirinya .
Meli udah
benar-benar sepenuh hati
pada Mahda, walaupun
gak ada yang
tau akan perasaannya
. Hingga suatu
hari Meli bertanya
pada Mahda melalui
sma “Ehh, lo
udah punya cewek
Da ?”
Awalnya Meli
gak mau menanyakan
pertanyaan itu, tapi
karena dia udah
kelewat penasaran akhirnya
terlontarlah pertanyaan itu .
“Udah Mel,
anak SMK Tunas
Bhakti” balas Mahda
.
Seketika Meli
menjadi kaku setelah
membaca sms Mahda
yang baru itu,
tanpa dia sadar
air mata menetes
membasahi pipinya .
“Wah, enak
dong hehe” Meli
berusaha bersikap tegar
walaupun tanpa Mahda
tau saat itu
Meli sedang menitikkan
air mata .
Pupus sudah
semua harapan Meli,ternyata
semua yang Mahda
berikan palsu .
“Mahda, kenapa
sih lo jahat
sama, salah apa
gue ? gue
pikir perasaan lo
sama kayak apa
yang gue rasain
ke lo” Meli
terisak, mengetahui semua
kenyataan perih ini .
Setelah tau
semuanya, akhirnya dengan
berat hati Meli
memutuskan buat ngelupain akan
perasaannya buat Mahda
walaupun sulit tapi
Meli yakin kalo
dia pasti bisa,
dia gak mau
tersiksa sama perasaannya
sendiri .
Dan saat
itu juga Meli
mulai jaga jarak
sama Mahda, Meli
udah gak pernah
sms Mahda lagi dan jarang
juga bales sms
dari Mahda .
Akhirnya dia ceritain
semuanya ke Kak
Harry . “Yaudah
Mel, mungkin belum
jodohnya, jangan sedih
lagi ya, kan
masih ada Kakak J” Harry
berusaha menenangkan perasaan
Meli yang sedang
kalut, dan tiba-tiba menarik
Meli lalu merangkulnya
.
“Iya Kak,
makasih ya udah
mau dengerin cerita
aku” ucap Meli,
dengan jantung yang
berdegub cepat karena
kaget ketika Harry
merangkulnya .
Harry emang
selalu bisa membuat
Meli tenang, dan
pantas saja Meli
mengidolakannya .
Setelah berbulan-bulan berusaha
jaga jarak dengan
Mahada, ternyata cowok
itu menyadari menjauhnya
Meli dari hidupnya,
Mahda mencoba mencari
tau melalui Rosa,
“Ros, lo tau
gak kenapa Meli
jadi jauh sama
gue gini ya
?” Tanya Mahda
ketika bertemu dengan
Rosa dikantin .
“Lo pikir
aja deh kenapa
Meli jadi jauh
sma lo” jawab
Rosa dengan ketus,
dan berjalan meninggalkan
Mahda sebelum sempat
Mahda berkata apa-apa
lagi .
Ketika bel
istirahat berakhir, Rosa
menghampiri Meli yang
sedang duduk sendiri
didalam kelas, “Mel,
tau gak, tadi
Mahda nanyain lo
tuh” seru Rosa .
“Ngapain lagi
dia nanyain gue,
udah ah jangan
bahas dia lagi,
sekarang gue udah
sama kehidupan gue
yang lebih tenang
nih hihi” jawab
Meli dengan senyum
tipis .
“Wuih, kayaknya
lo berhasil move
on nih dari
Mahda ? Sama
siapa tuh Mel
?” Tanya Rosa
dengan penasaran .
“Ada deh
nanti lo juga
tau kok, apa
yang bikin gue
jadi lebih baik”
jawab Meli sambil
meninggalkan Rosa yang
masih duduk dibangku
.
Menjauhnya Meli
dari Mahda tampaknya
menjadi kesempatan untuk
Harry, kesempatan untuk
mengisi ruang dihati
Meli . Karena
ternyata tanpa Meli
katahui sebenarnya Harry
selalu memperhatikannya, hingga
Harry jatuh cinta
pada gadis ini,
tapi Harry lebih
memilih untuk diam,
karena ia takut
kalau Meli mengetahui
perasaannya dia akan
menjauh darinya .
Tahun pun
berganti, Harry semakin
mencoba memasuki hidup
Meli, Mahda pun
menghilang tanpa kabar,
walaupun sebenarnya mereka
masih satu sekolah,
tapi Meli maupun
Mahda sudah jarang
bertemu .
Setelah melewati
tahun baru, hingga
memasuki bulan ketiga,
saat dimana Harry
dan Meli menjadi
dekat, Meli senang
sekali dengan keadaan
seperti ini, dimana
saat dia jatuh
orang yang sempat
ia kagumi datang menepis
kepedihannya . Dan bulan
ketiga inilah dimana
Meli bertambah umur
dan mendapatkan seseorang
yang benar-benar menyayanginya
.
“Mel, kamu
mau jalanin semua
hari-hari sama aku ?”
“Hah ? Maksud
Kakak ?” sontak
Meli kaget dengan
ucapan Harry .
“Kamu mau
jadi seseorang yang
special dihati aku
gak ? pacar aku
?” Jelas Harry
dengan senyum .
“Hah ? Hahahah…..” Meli spontan tertawa
memdengar pernyataan itu,
sempat ia berpikir
mimpikah dia saat
ini ?
Tetapi, melihat
tatapan Harry yang
begitu serius, Meli
pun berpikir jawaban
apa yang akan
dia berikan .
Teman-teman Meli pun
datang dan langsung
bersorak “Terima… terima…
terima…”
Wajah Meli
pun mulai memerah,
dan dia mulai
menyunggingkan senyuman, “Iya Kak,
aku mau jadi
pacar Kakak, karena
sejujurnya dulu akau
sempat kagum sama
Kakak” Jawab Meli
dengan malu-malu .
“Mel, kalo
aku juga harus
jujur, sebenarnya aku
juga udah lama
kagum sama kamu,
saat kamu cerita
tentang Mahda aku
juga sempat jealous,
dan aku juga
hampir putus asa
buat dapetin kamu,
tapi sekarang semua
udah terjawab, kamu
milik aku” Jelas
Harry sambil mengenggam
tangan Meli .

Komentar